Buat Yg Sdh Mnikah & Akan menikah....
Copas dari notes : Nur Komala Sari
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....
Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: "saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !" kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta.
Yang jelas kita perlu menikmati saat-saat bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi saat saat tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi.
Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah,betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental,lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.
Tulisan ini murni non politik, jadi tolong jangan tergesa-gesa membacanya.
Bacalah dengan sabar, lalu renungi dengan baik, setelah itu...terapkan dalam keseharian kita.......setuju ??
Suatu ketika seseorang berbincang dengan orang yang akan menjadi teman hidupnya, dan salah satunya bertanya; apakah ia bersedia berbagi masa depan dengannya,dan jawabannya tepat seperti yang diharap.mereka mulai membicarakan : seperti apa suasana rumah tangga ke depan.salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala mereka bertengkar. Dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah mereka pada sebuah memorandum of understanding,bahwa kalaupun harus bertengkar, maka :
1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama'ah
cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama'ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata "stop" ini giliran saya ! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati :
"kamu makin cantik kalau marah,makin energik ..."
dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi... "duh kekasih .. Bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ...."
demikian juga kalau pas kena giliran saya "yang olah raga otot muka", saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah,
ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya
maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah.
Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama'ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama'ah selain marah
2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa (maksudnya masa lalu kita)
siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah.
Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan dan bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.
Kalau saya terlambat pulang dan ia marah,maka kemarahan atas keterlambatan itu
sekeras apapun kecamannya, adalah "ungkapan rindu yang keras". Tapi bila itu
dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu,awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.
Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula),sepedas apapun saya marah,maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih tinggi". Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat,plus tuduhan "sudah tidak suka lagi ya dengan saya", maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya.
Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah ... Ok, marahlah
tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik
hari ini .....
3. Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga
saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (qs.53:38-40).
Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia,semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah "awal cinta yang panas ini".
Kata ayah saya : "teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak".
Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma'afnya daripada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..". Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!
4.kalau marah jangan di depan anak-anak
anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian.
Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu 'kan bapak saya.
Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :
* ibu : "saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak,dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu?!!!"
* bapak : "saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda ????!!!!
* anak : "...... Yaaa ...ibu saya babu, bapak saya kuda .... Terus saya ini apa ?"
kita harus berani berkata : "hentikan pertengkaran !"
ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan.
Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata
bahasa hati kita ???
5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat
pada setiap tahiyyat dalam shalat kita berkata : "assalaa-mu 'alaynaa wa'alaa'ibaadilahissholiihiin" ya allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yg sholeh ....
Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri/suami kita dengan amarah, maka kita telah mendustai nya, padahal nyawamu ditangan nya.
Ok, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan ilahi .... Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, atau maghrib sebatas isya ... Atau habis isya sebatas....???
Nnngg .. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar ...
6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema'afkan
tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah "proses belajar untuk mencintai lebih intens" ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki.
Ini saja, semoga bermanfa'at,"dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi".
*selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar tapi bodoh*
wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Showing posts with label a notes for our marriage. Show all posts
Showing posts with label a notes for our marriage. Show all posts
Tuesday, March 9, 2010
buku harian
Buku Harian
Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.
Di
dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan
bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi
seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya.
Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah
sulit. Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar
hanya akibat hal - hal kecil dalam rumah tangga.
Malam minggu pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ayah mendengarkan segala keluhan saya, dan setelah beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan saya.
Sebagian besar buku tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya buku? buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun.
Ayah
saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku
harian? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu dari
buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah, agak
miring dan sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang
semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman
kertas. Saya segera tertarik dengan hal tersebut, mulailah saya baca
dengan seksama halaman demi halaman isi buku itu.
Semuanya
merupaka catatan hal-hal sepele, "Suhu udara mulai berubah menjadi
dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya." "Anak - anak
terlalu berisik, untung ada dia."
Sedikit demi sedikit
tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan
cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap anak-anak dan
terhadap keluarga ini. Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa
buku, arus hangat mengalir di dalam hati saya, mata saya berlinang air
mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada
ayah "Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu."
Ayah menggelengkan kepalanyadan berkata, "Tidak perlu kagum, kamu juga bisa."
Ayah
berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidak
mungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan?
Intinya
adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. "Setiap
orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal, juga
suka mencari gara-gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel.
Waktu itu ayah bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan ayah
tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini.
Sering kali dalam hati ayah penuh dengan amarah waktu menulis kertasnya
dan sampai sobek akibat tembus oleh pena. Tapi ayah masih saja terus
menulis satu demi satu kebaikannya, ayah renungkan bolak balik dan
akhirnya emosinya juga tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah
kebaikan dari ibumu."
Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada ayah, "Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?"
Ayah
hanya tertawa dan berk ata, "Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam
buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang
kala di malam hari,menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan,
dan saling menertawakan pihak lain. ha. ha. ha."
Memandang
wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada
di atas meja, tiba - tiba saya sadar akan rahasia dari suatu pernikahan
:
"Cinta itu sebenarnya sangat sederhana, ingat dan catat kebaikan dari pasangan. Lupakan segala kesalahan dari pihak lain."
(anonim)
Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.
Di
dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan
bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi
seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya.
Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah
sulit. Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar
hanya akibat hal - hal kecil dalam rumah tangga.
Malam minggu pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ayah mendengarkan segala keluhan saya, dan setelah beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan saya.
Sebagian besar buku tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya buku? buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun.
Ayah
saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku
harian? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu dari
buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah, agak
miring dan sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang
semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman
kertas. Saya segera tertarik dengan hal tersebut, mulailah saya baca
dengan seksama halaman demi halaman isi buku itu.
Semuanya
merupaka catatan hal-hal sepele, "Suhu udara mulai berubah menjadi
dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya." "Anak - anak
terlalu berisik, untung ada dia."
Sedikit demi sedikit
tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan
cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap anak-anak dan
terhadap keluarga ini. Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa
buku, arus hangat mengalir di dalam hati saya, mata saya berlinang air
mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada
ayah "Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu."
Ayah menggelengkan kepalanyadan berkata, "Tidak perlu kagum, kamu juga bisa."
Ayah
berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidak
mungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan?
Intinya
adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. "Setiap
orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal, juga
suka mencari gara-gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel.
Waktu itu ayah bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan ayah
tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini.
Sering kali dalam hati ayah penuh dengan amarah waktu menulis kertasnya
dan sampai sobek akibat tembus oleh pena. Tapi ayah masih saja terus
menulis satu demi satu kebaikannya, ayah renungkan bolak balik dan
akhirnya emosinya juga tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah
kebaikan dari ibumu."
Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada ayah, "Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?"
Ayah
hanya tertawa dan berk ata, "Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam
buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang
kala di malam hari,menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan,
dan saling menertawakan pihak lain. ha. ha. ha."
Memandang
wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada
di atas meja, tiba - tiba saya sadar akan rahasia dari suatu pernikahan
:
"Cinta itu sebenarnya sangat sederhana, ingat dan catat kebaikan dari pasangan. Lupakan segala kesalahan dari pihak lain."
(anonim)
Subscribe to:
Posts (Atom)